THE JAIL Sebuah ‘Kisah Perjuangan Aktivis’

375

KISAH PERJUANGAN MAHASISWA ERA 1998
DI ANGKAT DALAM PEMENTASAN TEATER

Novel Lelaki di Tengah Hujan karya Wenri Wanhar dituangkan melalui pentas teater oleh Karat Teater Jakarta

THE JAIL atau kisah dibalik penjara naskah teater yang ditulis Herry Tany mengisahkan tentang perjuangan aktivis mahasiswa, aktivis buruh, dan aktivis perempuan.

MASALAH yang selalu muncul dari sebuah sistem sosial-politik yang terlampau sederhana terletak pada demikian mudahnya seseorang yang berkuasa memperlakukan dengan sangat tidak adil mereka yang tidak memiliki akses kuasa. Istilah ‘sederhana’ di sini dimaksudkan sebagai masalah bagaimana sistem tersebut dalam dirinya sendiri memungkinkan individu-individu yang berkuasa menggunakan posisinya secara semena-mena demi kepentingan pribadinya. Dalam sistem demikian tidak ada sanksi yang membuat seseorang jera apabila bertindak di luar batas ukuran-ukuran kemanusiaan.

Dalam situasi seperti ini yang ada sebatas mereka yang berkuasa dan mereka yang dikuasai, mereka yang menindas dan mereka yang ditindas. Bagi mereka yang dikuasai dan tertindas jalan yang tersisa adalah mendiamkan semua kekejaman itu sampai mati atau mengambil tindakan yang ekstrem: mengangkat senjata dan meneror.

Gambaran tersebut bisa dikatakan cara yang sangat baik untuk menarik benang merah novel Lelaki Di Tengah Hujan yang bahan dasar ceritanya diambil dari fakta sejarah hadirnya reformasi di Indonesia. Tokoh utama novel ini, Bujang Parewa, seorang mahasiswa yang dalam darahnya sudah kental dengan kekerasan dan perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

Beberapa kutipan dialog dalam naskah THE JAIL karya dan sutradara Herry Tany yang
terinspirasi dari novel Lelaki di Tengah Hujan

“Anda mungkin tahu !…..
Dulu negeri ini didirikan dengan cita-cita untuk menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun, kalian hari ini membalikan semua tujuan luhur itu….”

“Jangankan kesejahteraan, bahkan hak untuk hidup bebas dan berpendapat sesuai fitrah luhur manusia yang diberi akal budi sudah diberangus demi kepentingan diri dan kroni-kroni…..”

“Benarlah kiranya apa yang diramalkan Soekarno tempo dulu: ‘Perjuangan kami ditahun-tahun kemerdekaan akan lebih berat…..”

Karat Teater Jakarta sendiri merencanakan akan mementaskannya setelah pandemik usai sebagai pembangkit ingatan bahwa perjuangan pemuda yang berdarah-darah untuk menumbangkan kekuasaan yang otoriter pada era 1998 ini dapat ditonton secara langsung, bukan hanya dibaca saja dalam novel.

( Redaktur Pelaksana / Herry Tany )

Facebook Comments